KABARNUSANTARA.ID - Industri otomotif nasional saat ini sedang berada di bawah tekanan signifikan akibat kombinasi faktor internal dan eksternal. Salah satu tantangan utama adalah pelemahan daya beli masyarakat yang terus mengalami kontraksi dalam beberapa waktu terakhir.

Kondisi pasar yang sulit ini diperparah dengan kebijakan suku bunga yang relatif tinggi di dalam negeri. Selain itu, lembaga pembiayaan juga memperketat syarat penyaluran kredit kendaraan bermotor, sehingga membatasi akses konsumen.

Gejolak dari sisi eksternal turut menambah risiko bagi para pelaku industri otomotif. Fluktuasi nilai tukar mata uang menjadi perhatian serius, terutama setelah rupiah sempat melewati ambang batas Rp17.000 per dolar Amerika Serikat.

Pelemahan rupiah ini secara langsung berpotensi meningkatkan biaya produksi kendaraan di Indonesia. Hal ini disebabkan karena sebagian besar komponen penting yang digunakan dalam proses manufaktur masih harus diimpor.

Jika tren pelemahan nilai tukar rupiah ini berlanjut dalam jangka waktu yang panjang, produsen mobil diperkirakan akan menyesuaikan harga jual produk mereka di pasar domestik.

"Jika harga komponen meningkat akibat pelemahan nilai tukar, maka produsen berpotensi menaikkan harga kendaraan. Kenaikan harga di tengah melemahnya daya beli masyarakat dinilai dapat menjadi tantangan serius bagi industri otomotif nasional," kata Marketing and Customer Relation Division Head PT Astra International Tbk - Daihatsu Sales Operation (AI DSO), Tri Mulyono, dikutip Minggu (22/3/2026).

Performa penjualan mobil sepanjang tahun 2025 menjadi cerminan nyata dari tekanan yang dihadapi industri ini. Dilansir dari data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia, penjualan mobil secara wholesales hanya mencapai 803.687 unit. Angka tersebut menunjukkan penurunan sebesar 7,2% dibandingkan dengan total penjualan tahun sebelumnya yang tercatat 865.723 unit.

Memasuki dua bulan pertama tahun 2026, pemulihan pasar belum menunjukkan sinyal yang kuat, dengan total penjualan mobil baru berada di angka 130.677 unit. Tekanan ini paling terasa pada segmen kendaraan yang menargetkan konsumen kelas menengah, terutama mereka yang sangat mengandalkan skema pembiayaan kredit.

"Kondisi itu terutama dirasakan pada segmen kendaraan yang menyasar konsumen kelas menengah yang mengandalkan skema pembiayaan kredit," kata Tri.