Jakarta – Ketegangan geopolitik yang meningkat di kawasan Timur Tengah, khususnya di Selat Hormuz, telah memicu lonjakan harga minyak mentah hingga menembus angka US$ 100 per barel pada Kamis (12/3/2026). Situasi ini dipicu oleh pernyataan kontroversial yang diduga berasal dari pemimpin baru Iran yang menyatakan bahwa Selat Hormuz akan ditutup dan potensi serangan terhadap kapal-kapal di wilayah Teluk. Pernyataan ini sontak menimbulkan kekhawatiran mendalam di kalangan pedagang energi dan pelaku pasar global.

Pernyataan yang disampaikan melalui seorang pembawa acara di televisi pemerintah Iran, yang dikaitkan dengan Mojtaba Khamenei, memperingatkan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup. Lebih lanjut, peringatan tersebut juga mengindikasikan kemungkinan serangan lebih lanjut terhadap pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di wilayah tersebut. Eskalasi retorika ini, yang muncul di tengah ketidakpastian politik di Iran, langsung memicu reaksi keras dari pasar energi global.

Komentar yang diduga berasal dari pemimpin baru Iran ini muncul hanya beberapa jam setelah Badan Energi Internasional (IEA) mengeluarkan peringatan serius tentang potensi penyusutan pasokan minyak global. IEA menekankan bahwa jika kapal-kapal tidak dapat melanjutkan transit melalui Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital bagi sekitar seperlima produksi minyak global harian, maka pasar energi dunia akan menghadapi krisis pasokan yang signifikan.

IEA, dalam pernyataannya yang dikutip dari CNN pada Jumat (13/3/2026), menyatakan bahwa "Perang di Timur Tengah menciptakan gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global." Pernyataan ini menggarisbawahi betapa krusialnya Selat Hormuz bagi stabilitas pasokan energi dunia dan betapa rentannya pasar minyak global terhadap gejolak politik di kawasan tersebut.

Sebagai respons langsung terhadap meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz, harga minyak mentah Brent melonjak 9% menjadi di atas US$ 100 per barel. Sementara itu, harga West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami kenaikan yang signifikan, mencapai di atas US$ 95 per barel. Lonjakan harga ini mencerminkan kekhawatiran pasar tentang potensi gangguan pasokan minyak yang serius dan dampaknya terhadap ekonomi global.

Capital Economics, sebuah lembaga riset ekonomi terkemuka, memperkirakan bahwa harga minyak akan tetap berada di kisaran US$ 90-100 per barel dalam jangka waktu yang cukup lama. Jika prediksi ini terbukti benar, Capital Economics memperingatkan bahwa kondisi ini berisiko mendorong inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi di negara-negara ekonomi utama. Kenaikan harga energi dapat memicu kenaikan harga barang dan jasa lainnya, yang pada akhirnya dapat mengurangi daya beli konsumen dan menghambat pertumbuhan ekonomi.

Menyadari potensi dampak negatif dari lonjakan harga minyak terhadap ekonomi global, 32 negara ekonomi terbesar di dunia, termasuk AS, sepakat untuk melepaskan 400 juta barel minyak ke pasar global. Langkah yang dipimpin oleh IEA ini bertujuan untuk membatasi kenaikan harga minyak dan memperkuat pasokan minyak mentah yang terganggu oleh perang di Iran. Pelepasan cadangan minyak strategis ini diharapkan dapat membantu meredakan kekhawatiran pasar dan menstabilkan harga minyak dalam jangka pendek.

Namun, efektivitas langkah ini dipertanyakan oleh banyak analis pasar. Mereka berpendapat bahwa pelepasan 400 juta barel minyak mungkin tidak cukup untuk mengatasi dampak dari potensi blokade Selat Hormuz. Menurut perhitungan, hampir terblokirnya Selat Hormuz telah menghambat sekitar 15 juta barel minyak mentah dan 5 juta barel produk minyak lainnya dari pasar global setiap hari. Dengan demikian, penambahan 400 juta barel minyak mentah yang direncanakan hanya akan terserap dalam waktu sekitar 26 hari.

Jim Reid, Kepala Penelitian Makroekonomi Global di Deutsche Bank, menekankan bahwa "Dari perspektif pasar, masalahnya adalah investor semakin memperhitungkan konflik yang lebih berkepanjangan yang menyebabkan kerusakan ekonomi yang luas." Pernyataan ini menyoroti bahwa kekhawatiran pasar tidak hanya terbatas pada gangguan pasokan minyak jangka pendek, tetapi juga mencakup potensi dampak jangka panjang dari konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah terhadap ekonomi global.