Jakarta – Pasar modal Indonesia menunjukkan dinamika yang menarik pada hari Kamis (12/3), dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi tipis namun diwarnai oleh kinerja emiten yang beragam dan sentimen global yang kuat. IHSG ditutup pada level 7.362,12, turun sebesar 0,37%. Meskipun demikian, pergerakan pasar tidak seragam, dengan beberapa saham unggulan berhasil mencatatkan penguatan signifikan dan menjadi penopang utama indeks.

Gambaran Umum Pasar

Secara lebih rinci, saham-saham seperti DCII, BBCA (Bank Central Asia), dan BMRI (Bank Mandiri) menjadi bintang pada hari tersebut, menunjukkan fundamental yang solid dan kepercayaan investor yang tinggi. Sebaliknya, saham-saham seperti BREN, DSSA, dan BRMS justru menjadi pemberat, mengindikasikan adanya faktor-faktor spesifik perusahaan atau sentimen sektoral yang kurang mendukung.

Yang menarik, aktivitas investor asing menunjukkan sinyal positif, dengan mencatatkan net buy atau beli bersih sebesar Rp 905,27 miliar di pasar reguler. Jika memperhitungkan seluruh pasar, angka ini bahkan mencapai Rp 1 triliun, menunjukkan bahwa investor asing masih melihat potensi menarik di pasar saham Indonesia meskipun ada gejolak global.

Dari sisi sektoral, mayoritas sektor mengalami tekanan, dengan delapan dari sebelas sektor mencatatkan penurunan. Sektor cyclical mengalami penurunan terdalam, mencapai 2,04%, yang bisa jadi mencerminkan kekhawatiran terhadap prospek pertumbuhan ekonomi global atau domestik. Di sisi lain, sektor transportasi justru menjadi outlier dengan kenaikan tertinggi sebesar 1,26%, mungkin didorong oleh ekspektasi pemulihan mobilitas atau sentimen positif terhadap sektor penerbangan dan logistik.

Pengaruh Sentimen Global

Perlu dicatat bahwa pergerakan pasar saham Indonesia tidak terlepas dari pengaruh sentimen global. Bursa saham Amerika Serikat, sebagai barometer pasar global, kompak berakhir di zona merah. Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) turun 1,56% ke level 46.677, S&P 500 melemah 1,52% menjadi 6.672, dan Nasdaq Composite terkoreksi 1,78% ke 22.311.

Salah satu faktor utama yang memicu kekhawatiran pasar adalah meningkatnya tensi geopolitik, khususnya ancaman serangan Iran terhadap kapal tanker minyak yang melintas di Selat Hormuz. Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi pengiriman minyak global, dan gangguan terhadap pasokan energi berpotensi memicu inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi.

Kekhawatiran ini langsung tercermin pada harga minyak mentah Brent, yang melonjak 10,40% menjadi US$101,60 per barel. Kenaikan harga minyak ini tentu akan berdampak pada berbagai sektor, mulai dari transportasi hingga manufaktur, dan berpotensi memicu tekanan inflasi di berbagai negara.