KABARNUSANTARA.ID - Citigroup baru-baru ini mengumumkan penyesuaian signifikan terhadap perkiraan harga jangka menengah untuk aset kripto utama, Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH). Penurunan proyeksi ini didasarkan pada perkembangan legislatif di Amerika Serikat yang berjalan lebih lambat dari ekspektasi pasar.

Perusahaan pialang Wall Street tersebut mengaitkan perlambatan ini dengan meredupnya prospek katalis regulasi yang sebelumnya diharapkan dapat memicu peningkatan permintaan, terutama melalui produk ETF dan adopsi institusional yang lebih luas.

Menurut analisis mereka, kemajuan dalam penyusunan struktur pasar kripto di AS kini dilaporkan terhenti di tingkat Senat. Peluang pengesahan RUU seperti Clarity Act dianggap menurun drastis.

Hal ini disebabkan adanya perbedaan pendapat substansial mengenai regulasi stablecoin serta semakin sempitnya jendela waktu persetujuan yang realistis sebelum tahun 2026.

Akibat perubahan pandangan ini, Citi memangkas target harga Bitcoin 12 bulan ke depan dari semula diproyeksikan mencapai US$143.000 menjadi hanya US$112.000. Sementara itu, perkiraan untuk Ethereum juga disesuaikan turun menjadi US$3.175 dari estimasi sebelumnya di US$4.304.

"Katalis regulasi akan mendorong adopsi dan arus lebih lanjut, tetapi peluang untuk legislasi AS tahun ini semakin menyempit," kata ahli strategi Citi, Alex Saunders dalam sebuah catatan pada hari Senin, dikutip dari CNBC, Minggu (22/3/2026).

Citi juga menyajikan skenario risiko di bawah latar belakang makroekonomi resesi, di mana Bitcoin berpotensi tertekan hingga menyentuh level US$58.000 dan Ethereum anjlok ke US$1.198. Skenario paling optimis mereka masih menempatkan BTC di US$165.000 jika permintaan investor akhir menguat.

Sebagai perbandingan, pada Selasa pagi pukul 07.50 GMT, harga Bitcoin terakhir terpantau bergerak di sekitar US$74.298,11, sementara Ether diperdagangkan mendekati US$2.345,51.

"ETH akan sangat sensitif terhadap metrik aktivitas pengguna, yang baru-baru ini lemah, tetapi tren stablecoin dan tokenisasi dapat meningkatkan minat dan penggunaan," tambah Citi, dilansir dari CNBC.