Jakarta – Suasana Pasar Mayestik di Jakarta Selatan, yang biasanya ramai dengan hiruk pikuk persiapan Lebaran, tampak berbeda pada awal Maret 2026. Aktivitas para penjahit, yang seharusnya sibuk menerima dan mengerjakan pesanan pakaian baru, justru terlihat lebih tenang dari biasanya. Para pelaku usaha jahit di pasar tradisional ini mengeluhkan sepinya order, sebuah fenomena yang kontras dengan tradisi masyarakat Indonesia yang gemar mengenakan pakaian baru saat Hari Raya Idul Fitri.
Pasar Mayestik, yang terletak di kawasan Kebayoran Baru, dikenal sebagai salah satu pusat tekstil dan jasa jahit terkemuka di Jakarta. Setiap tahunnya, menjelang Lebaran, pasar ini selalu dipadati pengunjung yang mencari bahan pakaian atau ingin menjahitkan busana untuk merayakan hari kemenangan. Namun, tahun ini, pemandangan tersebut belum terlihat.
Mohammad Farrel dari detikFinance melaporkan pada Selasa, 10 Maret 2026, bahwa meskipun beberapa penjahit masih terlihat mengerjakan pesanan, jumlahnya tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya. Hal ini menimbulkan pertanyaan, apa yang menyebabkan penurunan minat masyarakat untuk menjahit pakaian baru menjelang Lebaran?
Salah satu faktor yang mungkin berperan adalah perubahan tren fashion. Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak masyarakat yang lebih memilih membeli pakaian jadi daripada menjahitkannya. Pakaian jadi menawarkan kepraktisan dan ketersediaan yang lebih cepat, serta pilihan model yang beragam. Selain itu, harga pakaian jadi juga seringkali lebih terjangkau daripada biaya menjahit, terutama jika bahan kain yang dipilih berkualitas tinggi.
Namun, ada pula faktor lain yang mungkin mempengaruhi kondisi ini. Pandemi global yang melanda dunia beberapa tahun terakhir telah mengubah banyak aspek kehidupan, termasuk kebiasaan berbelanja masyarakat. Banyak orang yang lebih berhati-hati dalam mengeluarkan uang, dan lebih memprioritaskan kebutuhan pokok daripada membeli pakaian baru. Selain itu, pembatasan sosial dan himbauan untuk mengurangi aktivitas di luar rumah juga mungkin membuat masyarakat enggan untuk pergi ke pasar dan berinteraksi dengan banyak orang.
Di lantai dua Pasar Mayestik, deretan kios jasa jahit tampak rapi, namun tidak terlalu ramai dengan aktivitas transaksi. Beberapa penjahit terlihat fokus menyelesaikan pesanan yang ada, dengan teliti mengukur kain, memotong pola, dan menjahit pakaian dengan mesin jahit mereka. Mereka mengerjakan berbagai macam pesanan, mulai dari baju kurung, gamis, hingga kemeja. Namun, raut wajah mereka tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran akan sepinya order yang mereka terima.
Salah seorang penjahit, Ibu Aminah, yang telah berjualan jasa jahit di Pasar Mayestik selama lebih dari 20 tahun, mengungkapkan bahwa tahun ini adalah salah satu tahun terberat yang pernah ia alami. "Biasanya, sebulan sebelum Lebaran, saya sudah kebanjiran order. Tapi sekarang, masih sepi saja. Pelanggan yang datang bisa dihitung jari," ujarnya dengan nada prihatin.
Ibu Aminah menambahkan bahwa banyak pelanggannya yang dulu setia menjahitkan pakaian di tempatnya, kini lebih memilih membeli pakaian jadi. "Mungkin karena lebih praktis dan harganya juga tidak jauh berbeda. Tapi, kalau menjahit, kan, kita bisa memilih bahan dan model yang sesuai dengan selera kita," katanya.
Meskipun demikian, Ibu Aminah tidak menyerah. Ia tetap berusaha memberikan pelayanan yang terbaik kepada pelanggannya, dengan menawarkan model-model terbaru dan menggunakan bahan-bahan berkualitas tinggi. Ia juga berharap agar situasi ini segera membaik, dan masyarakat kembali berminat untuk menjahit pakaian baru menjelang Lebaran.