Jakarta – Situasi geopolitik global kembali memanas dengan munculnya pernyataan dari mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang mengindikasikan kemungkinan aksi militer terhadap Iran. Pernyataan ini, yang disampaikan pada hari Jumat (20/2/2026) dan dikutip dari CNBC, langsung memicu kekhawatiran di pasar global, terutama di sektor energi, dan memicu lonjakan harga minyak mentah.

Trump menyatakan bahwa keputusan terkait tindakan terhadap Iran akan diambil dalam sepuluh hari ke depan. Ia menekankan pentingnya kesepakatan yang berarti dengan Iran terkait program nuklirnya. "Jadi, sekarang kita mungkin harus melangkah lebih jauh, atau mungkin tidak. Mungkin kita akan membuat kesepakatan. Anda akan mengetahuinya dalam 10 hari ke depan. Terbukti selama bertahun-tahun tidak mudah untuk membuat kesepakatan yang berarti dengan Iran. Kita harus membuat kesepakatan yang berarti. Jika tidak, hal-hal buruk akan terjadi," ujarnya, menyiratkan bahwa kegagalan mencapai kesepakatan dapat berujung pada opsi militer.

Pernyataan Trump ini bukan hanya sekadar gertakan. Latar belakang hubungan yang tegang antara AS dan Iran, ditambah dengan perkembangan negosiasi nuklir yang tersendat, semakin memperkuat kemungkinan aksi militer. Kebijakan "tekanan maksimum" yang diterapkan Trump selama masa jabatannya telah meninggalkan luka yang dalam dalam hubungan kedua negara. Iran, di sisi lain, terus mengembangkan program nuklirnya, meskipun membantah memiliki niat untuk membuat senjata nuklir.

Lonjakan harga minyak menjadi bukti nyata kekhawatiran pasar terhadap potensi konflik antara AS dan Iran. Harga minyak mentah AS naik US$ 1,24 atau 1,9% menjadi US$ 66,43 per barel, sementara harga minyak mentah Brent naik US$ 1,31 atau 1,86% menjadi US$ 71,66. Pasar khawatir bahwa perang antara AS dan Iran dapat mengganggu pasokan minyak global, terutama karena Iran mengendalikan Selat Hormuz, jalur pelayaran penting bagi perdagangan minyak dunia.

Selain dampak ekonomi, potensi konflik militer antara AS dan Iran juga memiliki implikasi geopolitik yang luas. Konflik ini dapat memicu destabilisasi lebih lanjut di Timur Tengah, wilayah yang sudah dilanda konflik dan ketegangan selama bertahun-tahun. Negara-negara tetangga Iran, seperti Arab Saudi dan Israel, juga akan terkena dampak langsung dari konflik tersebut.

Negosiasi nuklir antara AS dan Iran, yang difasilitasi oleh negara-negara Eropa, telah berlangsung selama beberapa waktu tanpa mencapai terobosan signifikan. Delegasi AS, yang dipimpin oleh Steve Witkoff dan Jared Kushner, baru-baru ini mengadakan pembicaraan dengan Iran di Jenewa. Namun, menurut Wakil Presiden AS, JD Vance, Iran tidak menanggapi batasan-batasan yang ditetapkan AS selama pembicaraan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa kedua belah pihak masih memiliki perbedaan yang signifikan terkait persyaratan kesepakatan nuklir.

Di tengah ketegangan yang meningkat, AS juga meningkatkan kehadiran militernya di Timur Tengah. Kapal induk USS Abraham Lincoln saat ini berada di wilayah tersebut, dan kapal induk kedua, USS Gerald Ford, sedang dalam perjalanan. Peningkatan militer ini dapat dilihat sebagai upaya untuk mengirimkan pesan yang jelas kepada Iran dan untuk menunjukkan bahwa AS siap untuk bertindak jika diperlukan.

Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengakui bahwa kemajuan telah dicapai selama pembicaraan di Jenewa, tetapi juga menekankan bahwa masih ada isu-isu yang belum terselesaikan. "Banyak alasan dan argumen yang dapat diajukan untuk serangan terhadap Iran," tuturnya, mengindikasikan bahwa opsi militer masih dipertimbangkan secara serius oleh pemerintahan AS.

Sebagai tanggapan terhadap peningkatan ketegangan, Garda Revolusi Iran mengadakan latihan militer di Selat Hormuz minggu ini. Latihan ini dapat dilihat sebagai upaya untuk menunjukkan kekuatan dan untuk memperingatkan AS agar tidak melakukan tindakan militer terhadap Iran. Para pedagang minyak khawatir bahwa perang antara AS dan Iran dapat mengganggu aliran minyak mentah melalui selat tersebut, yang akan memiliki dampak yang signifikan terhadap harga minyak global.