Jakarta – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, kembali memicu kekhawatiran global dengan menyatakan bahwa dirinya akan mengambil keputusan dalam 10 hari ke depan terkait kemungkinan serangan militer terhadap Iran. Pernyataan ini sontak mengguncang pasar minyak dunia, memicu lonjakan harga di tengah kekhawatiran akan gangguan pasokan akibat potensi konflik di Timur Tengah.

"Jadi, sekarang kita mungkin harus melangkah lebih jauh, atau mungkin tidak. Mungkin kita akan membuat kesepakatan. Anda akan mengetahuinya dalam 10 hari ke depan. Terbukti selama bertahun-tahun tidak mudah untuk membuat kesepakatan yang berarti dengan Iran. Kita harus membuat kesepakatan yang berarti. Jika tidak, hal-hal buruk akan terjadi," ujar Trump seperti dikutip dari CNBC, Jumat (20/2/2026).

Ancaman terselubung Trump ini bukan kali pertama dilontarkan. Sejak menjabat, retorika keras terhadap Iran menjadi ciri khas kebijakan luar negeri pemerintahannya. Penarikan AS dari perjanjian nuklir JCPOA (Joint Comprehensive Plan of Action) pada tahun 2018, yang disusul dengan penerapan sanksi ekonomi yang melumpuhkan, semakin memperburuk hubungan kedua negara. Ketegangan ini mencapai puncaknya dengan serangkaian insiden di kawasan Teluk Persia, termasuk serangan terhadap kapal tanker minyak dan fasilitas minyak Arab Saudi, yang dituduhkan AS kepada Iran.

Pernyataan terbaru Trump ini mengindikasikan bahwa opsi militer kembali menjadi pertimbangan serius, meskipun terdapat upaya diplomatik yang sedang berlangsung. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai arah kebijakan AS terhadap Iran, dan dampaknya terhadap stabilitas regional dan global.

Pasar Minyak Bereaksi Panik

Reaksi pasar minyak terhadap pernyataan Trump sangat signifikan. Harga minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) naik US$ 1,24 atau 1,9% menjadi US$ 66,43 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah Brent, patokan internasional, melonjak US$ 1,31 atau 1,86% menjadi US$ 71,66 per barel.

Lonjakan harga ini mencerminkan kekhawatiran mendalam di kalangan pedagang dan investor tentang potensi gangguan pasokan minyak mentah global. Iran merupakan produsen minyak utama, dan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang dikendalikan Iran, merupakan jalur penting bagi pengiriman minyak dari Timur Tengah ke seluruh dunia. Setiap konflik militer antara AS dan Iran berpotensi mengganggu aliran minyak melalui selat ini, menyebabkan kelangkaan pasokan dan lonjakan harga yang tajam.

Upaya Diplomasi di Tengah Bayang-Bayang Konflik

Di tengah ancaman militer yang membayangi, upaya diplomatik terus dilakukan untuk meredakan ketegangan. Utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner dikabarkan telah mengadakan pembicaraan dengan perwakilan Iran di Jenewa minggu ini, membahas program nuklir Iran. Wakil Presiden AS, JD Vance, menyatakan bahwa Iran belum sepenuhnya menanggapi batasan-batasan yang ditetapkan AS selama pembicaraan tersebut.