Jakarta – Pertamina Hulu Rokan (PHR) Regional 1 kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung ketahanan energi nasional melalui implementasi strategi inovatif dan kolaboratif. Hal ini terbukti dengan apresiasi yang diraih oleh empat proyek strategis PHR dalam Rapat Kerja Manajemen Proyek (RKMP) 2026 yang diselenggarakan oleh SKK Migas. Penghargaan ini menjadi bukti nyata dari upaya PHR dalam mengoptimalkan produksi migas di tengah tantangan kompleksitas operasional dan kebutuhan energi yang terus meningkat.

Direktur Utama PHR, Muhamad Arifin, menekankan bahwa kunci keberhasilan PHR terletak pada integrasi inovasi teknologi, kedisiplinan dalam manajemen proyek, efisiensi biaya, dan kolaborasi yang solid antar fungsi. Kombinasi elemen-elemen ini memungkinkan PHR untuk tidak hanya menjaga, tetapi juga meningkatkan produksi migas secara berkelanjutan.

"Dari peningkatan recovery factor melalui Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR), percepatan pemboran untuk menjaga level produksi, hingga efisiensi Abandonment and Site Restoration (ASR) dan percepatan onstream lapangan baru, semuanya terintegrasi dalam satu tujuan: memastikan energi tetap tersedia untuk Indonesia," ungkap Muhamad Arifin dalam keterangan tertulisnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa setiap inisiatif yang dijalankan PHR memiliki fokus yang jelas, yaitu memberikan kontribusi maksimal terhadap kebutuhan energi nasional.

PHR berkomitmen untuk terus memperkuat eksekusi proyek-proyek berbasis inovasi dan tata kelola yang baik. Hal ini menjadi landasan penting dalam mendukung target produksi nasional serta keberlanjutan operasi jangka panjang di Wilayah Kerja Rokan dan area sekitarnya. Dengan berpegang pada prinsip-prinsip ini, PHR optimis dapat terus memberikan kontribusi signifikan bagi sektor energi Indonesia.

Salah satu proyek yang menjadi sorotan adalah proyek Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) Minas A, yang berhasil meraih penghargaan kategori Onstream Ahead of POD (On Time Performance terhadap POD). Penghargaan ini sangat istimewa karena merupakan yang pertama kali diraih oleh proyek yang dikerjakan PHR sejak alih kelola Wilayah Kerja Rokan. Keberhasilan ini mencerminkan kemampuan PHR dalam mengadopsi dan mengimplementasikan teknologi canggih untuk meningkatkan efisiensi produksi.

Proyek CEOR Minas A merupakan implementasi injeksi Alkali-Surfaktan-Polymer (ASP) komersial pertama di Indonesia. Teknologi ini memungkinkan peningkatan perolehan minyak dari reservoir yang sebelumnya sulit diakses. Selain itu, proyek ini juga berhasil mereaktivasi peralatan yang sudah tidak beroperasi selama kurang lebih 10 tahun. Keberhasilan ini tidak lepas dari koordinasi yang solid antar fungsi serta dukungan intensif dari SKK Migas. Kolaborasi yang efektif antara berbagai pihak menjadi kunci dalam mengatasi tantangan teknis dan operasional yang kompleks.

Implementasi CEOR diproyeksikan akan meningkatkan Recovery Factor (RF) sebesar 13-17%. Peningkatan ini akan berdampak signifikan pada umur operasi lapangan-lapangan utama seperti Minas, Bekasap, Balam, dan Bangko. Dengan meningkatnya RF, lapangan-lapangan ini dapat terus berproduksi dalam jangka waktu yang lebih lama, sehingga memberikan kontribusi yang lebih besar bagi produksi migas nasional. Ke depannya, PHR berencana untuk memperluas pengembangan CEOR guna mendukung optimalisasi produksi di Zona Rokan secara menyeluruh. Hal ini menunjukkan komitmen PHR dalam terus berinovasi dan mencari cara untuk meningkatkan efisiensi produksi.

Selain CEOR, Program Well Connection PHR juga meraih penghargaan, yaitu kategori Best of Project Planning & Coordinating Performance. Sepanjang tahun 2025, PHR berhasil melampaui target 555 sumur dengan realisasi 605 sumur, termasuk sidetrack dan deepening. Keberhasilan ini menunjukkan kemampuan PHR dalam mengelola dan melaksanakan program pemboran secara efisien dan efektif.

Keberhasilan ini didorong oleh beberapa faktor, termasuk penjadwalan dinamis, koordinasi lintas fungsi yang intensif, optimalisasi desain dan material, serta persiapan konstruksi yang lebih awal. Kombinasi faktor-faktor ini memungkinkan PHR untuk memangkas cycle time POP (Put on Production) dari lebih dari 30 hari menjadi hanya 2-3 hari. Efisiensi ini berdampak signifikan pada peningkatan produksi migas.