Jakarta – Negara-negara anggota Kelompok Tujuh (G7) sedang mempertimbangkan langkah-langkah drastis untuk menstabilkan pasar energi global yang terguncang akibat penutupan Selat Hormuz. Para menteri energi dari negara-negara G7, yang terdiri dari Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat (AS), dijadwalkan untuk melakukan pertemuan virtual pada Selasa pagi guna membahas opsi pelepasan cadangan minyak strategis mereka. Langkah ini dipertimbangkan sebagai respons terhadap gangguan pasokan yang signifikan yang dipicu oleh konflik di Iran dan penutupan jalur pelayaran vital Selat Hormuz.

Krisis energi global ini bermula dari meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, yang berujung pada penutupan Selat Hormuz. Selat ini merupakan jalur pelayaran penting yang menghubungkan produsen minyak utama di Teluk Persia dengan pasar global. Penutupan selat ini secara efektif memutus akses terhadap sekitar 20% konsumsi minyak dunia yang biasanya dikirim melalui jalur tersebut. Dampaknya langsung terasa pada harga minyak, yang melonjak tajam di pasar global.

Sebelum pertemuan para menteri energi, para menteri keuangan G7 telah melakukan pertemuan pada hari Senin untuk membahas situasi tersebut. Meskipun belum ada keputusan konkret yang diambil pada pertemuan tersebut, para menteri keuangan G7 menyatakan kesiapan mereka untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan, termasuk mendukung pasokan energi global melalui pelepasan stok cadangan. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa negara-negara G7 serius mempertimbangkan opsi pelepasan cadangan minyak strategis sebagai solusi untuk mengatasi krisis yang sedang berlangsung.

Amerika Serikat, sebagai salah satu anggota G7 dengan cadangan minyak strategis terbesar, diperkirakan akan memainkan peran kunci dalam koordinasi pelepasan cadangan minyak. Pemerintah AS menilai bahwa pelepasan antara 300 juta hingga 400 juta barel minyak akan menjadi langkah yang tepat untuk menstabilkan pasar. Jumlah ini setara dengan sekitar 25%-30% dari total cadangan minyak yang dimiliki oleh negara-negara G7, yang diperkirakan mencapai 1,2 miliar barel.

Pelepasan cadangan minyak strategis bukanlah solusi permanen untuk masalah pasokan energi. Namun, langkah ini dapat memberikan bantuan sementara dan meredakan tekanan pada harga minyak. Selain itu, pelepasan cadangan minyak juga dapat memberikan sinyal yang kuat kepada pasar bahwa negara-negara G7 berkomitmen untuk menjaga stabilitas pasokan energi global.

Krisis energi saat ini berbeda dengan krisis-krisis sebelumnya karena tidak ada kapasitas produksi cadangan yang dapat segera menggantikan pasokan yang hilang akibat penutupan Selat Hormuz. Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, yang biasanya memiliki kapasitas produksi cadangan yang signifikan, praktis terputus dari pasar minyak global akibat penutupan selat tersebut. Hal ini semakin memperburuk situasi dan meningkatkan urgensi untuk menemukan solusi alternatif.

Cadangan minyak strategis Amerika Serikat (SPR) juga dinilai tidak cukup untuk menutupi seluruh pasokan yang tertahan di Teluk Persia. Saat ini, SPR AS menyimpan sekitar 415 juta barel minyak, yang merupakan sekitar 58% dari kapasitas maksimalnya yang mencapai 714 juta barel. Meskipun SPR AS merupakan cadangan minyak terbesar di dunia, jumlahnya masih terbatas dan tidak dapat sepenuhnya menggantikan pasokan yang hilang akibat penutupan Selat Hormuz.

Para analis dari Rapidan Energy Group berpendapat bahwa negara-negara anggota International Energy Agency (IEA) kemungkinan akan menghadapi tekanan besar untuk melepaskan cadangan minyak strategis mereka. Mereka menilai bahwa pelepasan cadangan minyak kini menjadi satu-satunya opsi respons pasokan yang tersisa untuk mengatasi krisis energi global.

Harga minyak telah mengalami fluktuasi yang signifikan sejak penutupan Selat Hormuz. Pada awalnya, harga minyak melonjak di atas US$ 100 per barel karena kekhawatiran tentang gangguan pasokan. Namun, harga minyak sedikit terkoreksi pada hari Senin karena pasar mulai memperkirakan adanya pelepasan cadangan minyak. Minyak mentah AS terakhir diperdagangkan di kisaran US$ 95 per barel, sementara patokan global Brent berada sedikit di bawah US$ 100 per barel.