Jakarta – Perum Bulog tengah berupaya keras untuk menstabilkan harga Minyakita, minyak goreng kemasan sederhana yang menjadi andalan masyarakat, khususnya menjelang bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri. Langkah strategis yang diambil adalah dengan menambah stok Minyakita secara signifikan, menargetkan angka 100.000 ton yang akan didistribusikan ke pasar-pasar tradisional di seluruh Indonesia. Untuk mencapai target ambisius ini, Bulog akan aktif berkoordinasi dan meminta tambahan pasokan Minyakita kepada para produsen minyak goreng sawit.

Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menjelaskan bahwa penambahan stok ini merupakan respons terhadap fluktuasi harga Minyakita yang masih dirasakan oleh masyarakat. Ia mengakui bahwa jatah bulanan Minyakita yang seharusnya diterima Bulog adalah 60.000 ton, namun realisasinya selama bulan Februari baru mencapai 45.000 ton. Hal ini menunjukkan adanya kekurangan pasokan dari produsen, yang menjadi perhatian serius bagi Bulog.

"Harus kita dapat 60.000 ton per bulan, cuman memang kita baru selama Februari baru dapat 45.000 ton. Jadi, kita memang masih banyak kekurangan daripada produsen. Nanti kita maksimalkan kalau bisa 90 ribu ton atau 100 ribu ton untuk persiapan Ramadan dan Idul Fitri sehingga daerah-daerah itu tidak kekurangan lagi stok Minyakita," ujar Ahmad Rizal Ramdhani saat ditemui di Kantor Perum Bulog, Jakarta Selatan, pada Sabtu (21/2/2026).

Pernyataan ini menunjukkan komitmen Bulog untuk memastikan ketersediaan Minyakita yang cukup di seluruh wilayah Indonesia, terutama menjelang hari-hari besar keagamaan yang biasanya diikuti dengan peningkatan permintaan. Dengan target 100.000 ton, Bulog berharap dapat meredam potensi kenaikan harga dan memberikan kepastian kepada masyarakat bahwa mereka dapat memperoleh Minyakita dengan harga yang terjangkau.

Selain penambahan stok, Bulog juga akan melakukan penyaluran Minyakita secara masif melalui kios-kios Bulog yang akan dibuka di 146 pasar di Jakarta. Strategi ini bertujuan untuk memangkas rantai distribusi dan memastikan bahwa Minyakita sampai ke tangan pengecer dengan harga yang lebih terkontrol. Dengan menjadi distributor pertama yang langsung berhubungan dengan pengecer, Bulog berharap dapat menekan harga Minyakita di tingkat konsumen agar sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan.

"Kemarin saja ditemukan oleh Pak Mentan Minyakita masih harganya ada yang Rp 19.000/liter. Nah harapannya kami, jangan sampai terulang lagi, maka (pemerintah) DKI dengan kami adakan upaya yang lebih cepat penanganannya supaya tidak lagi ada kenaikan-kenaikan signifikan," terang Ahmad Rizal Ramdhani.

Penegasan ini menggarisbawahi pentingnya pengawasan dan tindakan cepat dalam mengatasi praktik-praktik yang merugikan konsumen, seperti penjualan Minyakita di atas HET. Dengan menggandeng pemerintah daerah, khususnya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Bulog berupaya memperkuat sistem pengawasan dan penegakan hukum untuk memastikan bahwa harga Minyakita tetap terkendali.

Sebagaimana diketahui, secara aturan, HET Minyakita telah ditetapkan sebesar Rp 15.700/liter. Untuk mendukung stabilisasi harga dan ketersediaan Minyakita, Kementerian Perdagangan (Kemendag) telah mengeluarkan peraturan yang mewajibkan penyaluran Minyakita secara nasional sebesar 35% melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Pangan, salah satunya adalah Perum Bulog. Melalui aturan ini, BUMN Pangan akan berperan sebagai distributor pertama yang menyalurkan Minyakita langsung ke pengecer atau pedagang.

Aturan tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2025 tentang Minyak Goreng Sawit Kemasan dan Tata Kelola Minyak Goreng Rakyat. Regulasi ini menjadi landasan hukum bagi Bulog untuk menjalankan perannya dalam stabilisasi harga dan ketersediaan Minyakita.