KABARNUSANTARA.ID - Ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat memberikan dampak signifikan terhadap stabilitas harga di sektor transportasi udara global. Lonjakan harga tiket dilaporkan mulai dirasakan oleh penumpang, terutama pada rute trans-Atlantik, kawasan Karibia, serta untuk pemesanan tiket mendadak atau last-minute.
Dilansir dari The Wall Street Journal, para eksekutif industri menyatakan bahwa kenaikan biaya operasional ini dipicu oleh melambungnya harga bahan bakar jet. Di Amerika Serikat, maskapai Spirit Airlines mencatatkan lonjakan tarif mingguan paling tajam untuk penerbangan domestik yang dipesan 21 hari sebelumnya.
Data pemesanan sejak awal Maret menunjukkan harga tiket satu arah terendah meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi kisaran US$193. Tren serupa juga dialami maskapai besar seperti United Airlines dan Delta Air Lines, dengan kenaikan tarif domestik antara 15 persen hingga 57 persen.
"Ketika harga naik secepat ini, harga tiket pesawat juga naik, namun harga tiket juga turun ketika harga bahan bakar kembali turun karena itulah yang selalu terjadi," ungkap CEO United Airlines, Scott Kirby.
Secara teknis, tarif penerbangan dipengaruhi oleh berbagai faktor kompleks selain pergerakan harga minyak mentah dunia. Permintaan pada rute tertentu serta kondisi ekonomi makro secara keseluruhan turut memegang peranan penting dalam penentuan harga di pasar.
"Maskapai yang bergantung pada pesawat yang lebih tua atau kurang efisien mungkin akan terkena dampak yang lebih besar dari kenaikan harga bahan bakar jet," kata Pendiri Atmosphere Research Group, Henry Harteveldt.
Para analis di TD Cowen mulai menurunkan target pendapatan bagi sejumlah maskapai besar sebagai respons atas situasi ini. Perusahaan penerbangan diperkirakan akan segera merevisi panduan bisnis mereka pada pekan depan guna menyesuaikan dengan kondisi pasar yang fluktuatif.
"Maskapai penerbangan tahu bahwa jika mereka menaikkan harga tiket terlalu tinggi, mereka akan kehilangan lebih banyak penjualan daripada yang mereka peroleh," jelas Henry Harteveldt.
Situasi ini memicu perubahan perilaku konsumen, di mana sebagian pelancong mulai menunda rencana liburan internasional atau beralih ke penerbangan domestik. Meski demikian, sebagian pelancong lainnya terpantau tetap melanjutkan rencana perjalanan yang telah dijadwalkan sebelumnya.