Jakarta – Di tengah meningkatnya kekhawatiran global terkait pasokan energi akibat konflik yang berkecamuk di Timur Tengah, Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen Indonesia untuk mencapai swasembada energi melalui pengembangan bahan bakar minyak (BBM) berbasis sumber daya nabati. Pernyataan ini menjadi krusial mengingat potensi gangguan signifikan terhadap rantai pasokan energi global dan lonjakan harga minyak dunia yang dapat berdampak besar pada perekonomian Indonesia.
Dalam pidato virtualnya yang disampaikan pada hari Senin, 9 Maret 2026, Presiden Prabowo menekankan bahwa pemerintah Indonesia sedang gencar mengembangkan berbagai jenis BBM yang berasal dari sumber daya alam yang melimpah di dalam negeri, seperti kelapa sawit, singkong, jagung, dan tebu. Inisiatif ini dipandang sebagai langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor BBM, yang selama ini menjadi beban signifikan bagi neraca perdagangan dan anggaran negara.
"Masalah BBM, bertahun-tahun saya perjuangkan swasembada energi. Kita memiliki karunia besar dari Yang Maha Kuasa bahwa kita nanti mampu memenuhi kebutuhan BBM kita bukan dari impor luar negeri. Bahkan dari tanaman-tanaman kita, dari kelapa sawit, dari singkong, dari jagung, dari tebu," tegas Presiden Prabowo. Pernyataan ini mencerminkan visi jangka panjang pemerintah untuk menciptakan kemandirian energi dan memanfaatkan potensi sumber daya alam Indonesia secara optimal.
Pengembangan BBM nabati merupakan bagian integral dari strategi energi nasional yang lebih luas, yang bertujuan untuk diversifikasi sumber energi, mengurangi emisi gas rumah kaca, dan menciptakan lapangan kerja baru di sektor pertanian dan industri pengolahan. Pemerintah telah mengalokasikan sumber daya yang signifikan untuk mendukung penelitian, pengembangan, dan komersialisasi teknologi BBM nabati, serta memberikan insentif kepada produsen dan konsumen.
Salah satu fokus utama pengembangan BBM nabati adalah biodiesel, yang dihasilkan dari minyak kelapa sawit. Indonesia telah berhasil menerapkan program biodiesel dengan campuran 40% minyak nabati dari kelapa sawit atau B40. Program ini telah memberikan dampak positif terhadap industri kelapa sawit, meningkatkan pendapatan petani, dan mengurangi impor solar.
Pemerintah berencana untuk meningkatkan campuran minyak nabati dalam biodiesel menjadi 50% atau B50 pada tahun ini. Langkah ini diharapkan dapat semakin mengurangi ketergantungan pada solar impor dan meningkatkan pemanfaatan kelapa sawit dalam negeri. Selain itu, pemerintah juga mendorong pengembangan bioetanol, yaitu campuran bensin dengan etanol yang dihasilkan dari tebu.
Saat ini, Pertamina telah meluncurkan produk bensin Pertamax Green 95 yang mengandung campuran 5-7% etanol. Rencananya, dalam beberapa tahun mendatang, campuran etanol akan ditingkatkan menjadi 10%. Peningkatan campuran etanol diharapkan dapat mengurangi emisi gas rumah kaca dari kendaraan bermotor dan meningkatkan kualitas udara di perkotaan.
Selain biodiesel dan bioetanol, Indonesia juga sedang mengembangkan sustainable aviation fuel (SAF) atau bahan bakar penerbangan berkelanjutan. SAF merupakan bahan bakar pesawat yang diolah dari minyak jelantah (Used Cooking Oil). Meskipun belum digunakan secara luas, uji coba penerbangan dengan menggunakan SAF telah dilakukan. Pengembangan SAF merupakan langkah penting untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dari sektor penerbangan dan mendukung keberlanjutan industri penerbangan.
Potensi besar energi hijau ini semakin relevan di tengah ancaman kenaikan harga minyak dunia akibat konflik yang berkecamuk di Timur Tengah. Eskalasi ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang bersekutu dengan Israel telah memicu kekhawatiran akan gangguan terhadap pasokan minyak global.