Jakarta – Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman baru-baru ini melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Sidak ini dilakukan sebagai respons atas laporan yang diterima mengenai lonjakan harga ayam yang tidak wajar, bahkan mencapai Rp 50.000 per kilogram. Tindakan tegas ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menjaga stabilitas harga pangan, terutama menjelang bulan suci Ramadan. Turut serta dalam sidak tersebut adalah Satuan Tugas (Satgas) Pangan, yang menunjukkan sinergi antara berbagai pihak untuk menindak praktik-praktik yang merugikan masyarakat.
Dalam sidak tersebut, Amran Sulaiman menegaskan bahwa tidak ada toleransi bagi pihak-pihak yang memanfaatkan momentum Ramadan untuk melakukan spekulasi harga dan meraup keuntungan secara tidak adil. Menurutnya, praktik semacam ini tidak hanya merugikan konsumen, tetapi juga mencederai nilai-nilai Ramadan yang seharusnya diisi dengan kebaikan dan kepedulian.
"Tadi pagi kami menerima laporan bahwa harga ayam melonjak hingga Rp 40.000-50.000 per kilogram. Setelah kami berkoordinasi dengan Satgas Pangan, harga langsung turun menjadi Rp 25.000 per kilogram dalam waktu setengah jam. Ini jelas menunjukkan adanya indikasi permainan harga. Hal seperti ini tidak boleh dibiarkan," ujar Amran Sulaiman dengan nada geram, sebagaimana dikutip pada Sabtu (21/2/2026). Pernyataan ini mengindikasikan bahwa tindakan cepat dan responsif dari pemerintah mampu memberikan efek jera bagi para pelaku spekulasi harga.
Tidak hanya ayam, komoditas bawang putih juga menjadi perhatian dalam sidak tersebut. Harga bawang putih dilaporkan mencapai Rp 38.000 per kilogram, yang dinilai terlalu tinggi dan memberatkan masyarakat. Pemerintah berjanji akan segera melakukan koordinasi dan pengawasan intensif agar harga bawang putih dapat kembali stabil dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Amran Sulaiman dengan tegas menyatakan bahwa pemerintah, bersama dengan Kepolisian Republik Indonesia (Polri), tidak akan ragu untuk mengambil tindakan hukum terhadap siapapun yang terbukti melakukan pelanggaran terkait harga pangan. Hal ini termasuk pada komoditas minyak goreng, yang seringkali menjadi sorotan karena fluktuasi harganya yang signifikan.
"Saya tegaskan sekali lagi, jangan coba-coba bermain-main dengan harga pangan di bulan suci Ramadan ini. Kami tidak bermaksud untuk menghalangi pengusaha mencari rezeki. Silakan berusaha, tetapi jangan sampai mengganggu masyarakat yang sedang menjalankan ibadah puasa," tegas Amran Sulaiman. Pernyataan ini mencerminkan komitmen pemerintah untuk menciptakan iklim usaha yang sehat dan adil, di mana pengusaha dapat mencari keuntungan secara wajar tanpa merugikan kepentingan masyarakat luas.
Dalam sidak tersebut, Amran Sulaiman juga menemukan adanya praktik penjualan Minyakita di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Minyakita, yang seharusnya dijual dengan harga Rp 15.700 per liter, justru ditemukan dijual dengan harga Rp 19.000 per liter. Temuan ini menunjukkan masih adanya oknum-oknum yang memanfaatkan situasi untuk mencari keuntungan pribadi.
"Ini Minyakita tertulis harganya Rp 15.700, tapi dijual Rp 19.000. Saya minta kepada Bapak Dirkrimsus untuk segera memproses hukum kasus ini dan menyegel unit usahanya. Namun, jangan sampai menyasar penjual pengecernya. Kasus ini harus ditelusuri sampai ke akar-akarnya," tegas Amran Sulaiman. Perintah tegas ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk menindak tegas para pelaku pelanggaran dan memberikan efek jera agar praktik serupa tidak terulang kembali.
Meskipun menemukan beberapa pelanggaran, Amran Sulaiman memastikan bahwa secara umum kondisi pasokan pangan nasional dalam keadaan aman dan mencukupi. Pemerintah telah melakukan berbagai langkah antisipasi untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat selama bulan Ramadan dan seterusnya.