Jakarta – Peringatan Hari Sampah Nasional menjadi momentum penting bagi Pertamina Patra Niaga untuk menegaskan kembali komitmennya dalam mendorong pengelolaan sampah yang bertanggung jawab dan berkelanjutan di seluruh wilayah operasionalnya di Indonesia. Sebagai perusahaan energi terintegrasi, Pertamina Patra Niaga menyadari bahwa pengelolaan sampah yang efektif bukan hanya tanggung jawab lingkungan, tetapi juga pilar penting dalam menciptakan nilai ekonomi dan sosial bagi masyarakat.
Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang komprehensif, Pertamina Patra Niaga telah mengimplementasikan berbagai inisiatif pengelolaan sampah di 58 lokasi strategis di seluruh Indonesia. Program-program ini dirancang untuk mengatasi permasalahan sampah dari hulu hingga hilir, mulai dari edukasi dan pemilahan sampah di tingkat rumah tangga, pengumpulan dan pengangkutan sampah yang efisien, hingga pengolahan sampah menjadi produk bernilai ekonomi melalui daur ulang dan pengolahan organik.
Hasilnya sungguh menggembirakan. Setiap tahunnya, program TJSL Pertamina Patra Niaga berhasil mengumpulkan sekitar 4,7 ribu ton sampah. Dari jumlah tersebut, 2,3 ribu ton berhasil dikelola dan dimanfaatkan kembali, baik melalui proses daur ulang menjadi bahan baku industri maupun melalui pengolahan organik menjadi pupuk kompos, pakan ternak, dan produk eco-enzyme yang ramah lingkungan.
Lebih dari sekadar angka, program-program ini telah memberikan dampak positif yang signifikan bagi masyarakat. Sebanyak 2.470 warga telah terlibat aktif dalam berbagai inisiatif pengelolaan sampah, menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan pendapatan keluarga. Secara kumulatif, program TJSL Pertamina Patra Niaga telah menghasilkan total nilai pendapatan masyarakat mencapai Rp 3,2 miliar, bukti nyata bahwa pengelolaan sampah yang berkelanjutan dapat menjadi sumber penghidupan yang menjanjikan.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M. V. Dumatubun, menekankan bahwa Hari Sampah Nasional bukan hanya sekadar seremonial, tetapi juga momen refleksi untuk mengevaluasi kinerja dan memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
"Pengelolaan sampah adalah pekerjaan rumah besar yang membutuhkan komitmen jangka panjang dan keterlibatan aktif dari seluruh elemen masyarakat. Pemerintah, sektor swasta, komunitas, dan individu harus bersinergi untuk menciptakan solusi yang inovatif dan berkelanjutan," ujar Roberth. "Melalui program TJSL, Pertamina Patra Niaga berupaya untuk menjadi katalisator dalam menciptakan ekosistem pengelolaan sampah yang terstruktur, bernilai ekonomi, dan memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat."
Salah satu contoh konkret dari implementasi pengelolaan sampah terpadu adalah program TPS 3R Resik yang dijalankan oleh unit Fuel Terminal Boyolali di Desa Butuh. Fasilitas ini dirancang untuk mengelola sampah dari 310 Kepala Keluarga dan 115 pelaku usaha di sekitar desa. Dengan kapasitas pengelolaan mencapai 480 ton sampah per tahun, TPS 3R Resik telah menjadi solusi efektif dalam mengurangi volume sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA).
Keberhasilan program TPS 3R Resik tidak lepas dari sistem pengelolaan yang konsisten dan partisipatif. Masyarakat desa dilibatkan secara aktif dalam pemilahan sampah di tingkat rumah tangga, sementara petugas TPS 3R bertanggung jawab untuk mengumpulkan, mengolah, dan memasarkan produk-produk daur ulang. Hasilnya, program ini tidak hanya meningkatkan kebersihan dan kesehatan lingkungan desa, tetapi juga menghasilkan nilai ekonomi hingga Rp 36 juta per tahun.
Selain itu, Pertamina Patra Niaga juga membina 15 Bank Sampah yang mengembangkan budidaya maggot sebagai solusi pengolahan sampah organik. Maggot, atau larva lalat Black Soldier Fly (BSF), memiliki kemampuan luar biasa dalam mengurai sampah organik dengan cepat dan efisien. Budidaya maggot tidak hanya mengurangi volume sampah organik, tetapi juga menghasilkan pupuk kompos berkualitas tinggi dan pakan ternak yang kaya protein.