KABARNUSANTARA.ID - Kondisi pasar saham di wilayah Asia-Pasifik terpantau mengalami pelemahan signifikan pada pembukaan perdagangan awal pekan ini. Tren negatif tersebut dipicu oleh meningkatnya suhu politik di Timur Tengah yang melibatkan konfrontasi antara Amerika Serikat dan Iran.

Para investor kini tengah menyoroti eskalasi konflik yang telah memasuki pekan keempat setelah kedua negara saling melontarkan ancaman militer. Informasi mengenai situasi terkini di kawasan tersebut dilansir dari CNBC Internasional.

Ketegangan memuncak saat Presiden Donald Trump memberikan peringatan keras untuk melumpuhkan jaringan listrik di Iran dalam kurun waktu 48 jam sejak Sabtu (21/3/2026). Langkah tersebut akan diambil jika Teheran tidak segera membuka akses penuh di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital energi dunia.

Menanggapi ancaman tersebut, pemerintah Iran menyatakan kesiapan untuk membalas dengan menargetkan infrastruktur energi serta fasilitas desalinasi di wilayah Teluk. Langkah balasan ini diprediksi akan berdampak luas pada stabilitas pasokan energi di kawasan tersebut.

"Segala bentuk serangan terhadap pembangkit listrik kami akan dibalas dengan penghancuran permanen infrastruktur energi dan minyak di seluruh wilayah, yang berpotensi melambungkan harga minyak dalam waktu lama," ujar Mohammad Bagher Ghalibaf.

"Entitas keuangan yang membeli obligasi pemerintah Amerika Serikat dan mendanai anggaran militer mereka kini dianggap sebagai target sah, setara dengan pangkalan militer," kata Mohammad Bagher Ghalibaf.

Di tengah situasi yang memanas, harga minyak mentah dunia terpantau masih relatif stabil pada perdagangan Senin pagi. Minyak jenis Brent berada di level US$111,97 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) tercatat turun tipis ke angka US$97,64 per barel.

Tekanan jual melanda bursa Australia di mana indeks S&P/ASX 200 merosot lebih dari 1,8 persen. Sementara itu, bursa Jepang mengalami koreksi tajam dengan indeks Nikkei 225 yang anjlok hingga 4 persen pada awal perdagangan sementara indeks Topix turun 2,8 persen.

Penurunan serupa juga terjadi di pasar modal Korea Selatan dengan indeks Kospi yang terpuruk 4,6 persen dan indeks Kosdaq turun 3,7 persen. Pelemahan ini mencerminkan kekhawatiran mendalam pelaku pasar terhadap potensi gangguan ekonomi global akibat konflik fisik.