Refleksi Kemerdekaan RI, Ulama Dipandang Jadi Pemegang Saham Terbesar NKRI

Kemerdekaan Republik Indonesia yang diproklamasikan tanggal 17 Agustus tahun 1945, memang diproklamasikan oleh Soekarno dan Muhammad Hatta

GARUT, KABARNUSANTARA.ID – Kemerdekaan Republik Indonesia yang diproklamasikan tanggal 17 Agustus tahun 1945, memang diproklamasikan oleh Soekarno dan Muhammad Hatta. Namun, dibalik Soekarno-Hatta, ada peran besar ulama-ulama di berbagai daerah yang berjuang melawan penjajah.

Peran ulama pada masa perang melawan penjajah, setidaknya terungkap dalam kegiatan seminar bertajuk “Refleksi Peran Ulama dalam Merebut Kemerdekaan Indonesia” yang digelar oleh Tanjung Singguru Institute di Pondok Pesantren tertua di Garut yaitu Pondok Pesantren Al Falah Biru di Desa Mekargalih Kecamatan Tarogong Kidul akhir pekan lalu.

Bacaan Lainnya

Pondok Pesantren Al Falah Biru sendiri, menjadi salahsatu pondok pesantren yang jadi basis perjuangan ulama di Garut dalam melawan penjajah Belanda dan Jepang. Saat itu, Pondok Pesantren Al Falah Biru dipimpin oleh seorang ulama pejuang yaitu KH Syaikhuna Badruzzaman yang juga jadi pengembang tarekat Tijani di Garut dan Jawa Barat.

Nur Wajah, Ketua Tanjung Singguru Institute melihat, seminar yang digelar merupakan sebuah upaya mengangkat kembali nilai-nilai perjuangan ulama dalam memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajah. Nilai-nilai ini, menurutnya perlu dikembangkan dan diaktualisasikan dalam pergerakan mengisi kemerdekaan.

“Yang paling penting dari refleksi ini adalah bagaimana spirit dan karomah dari para ulama ini, bisa kita serap dan aktualisasikan dalam konteks kekinian,” katanya.

Ahmad Sukamto, mantan hakim Mahkamah Agung yang jadi pembicara dalam seminar tersebut melihat yang menonjol dari sosok ulama adalah sosok manusia yang takut kepada Allah SWT. Untuk mewujudkan keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat saat ini, perlu manusia-manusia yang takut pada Allah SWT.

“Kita semua harus jadi ulama, artinya manusia-manusia yang takut terhadap Allah, karena dengan rasa takut itu, manusia terhindar dari berbagai pelanggaran. Karena banyak pelanggaran dan masalah yang berimplikasi hukum terjadi karena tidak adanya rasa takut,” katanya.

KH Asep Badruzzaman, cucu dari KH Syaikhuna Badruzzaman yang juga pimpinan Pondok Pesantren Jawiyah Tegal Malaka mengungkapkan, ulama merupakan figur unik di masyarakat karena dianggap serba bisa. Hal ini jadi modal sosial ulama untuk mempengaruhi masyarakat bergerak melawan kedzaliman penjajah.

“Pesantren diijadikan markasnya untuk merancang strategi menyerang dan bertahan, makanya muncul berbagai laskar perlawanan seperti Hisbullah, Fisabilillah, Mujahidin dan lainnya dengan konsep jihadnya,” jelas Acep.

Acep menuturkan, meski banyak ulama gugur dalam medan pertempuran, seperti KH Mustafa Kamil misalnya yang gugur dalam pertempuran 10 November di Surabaya yang juga masih kakek dari Acep, cita-cita para ulama tidak akan mati.

“Cita-citanya harus jadi spirit bagi kita dalam mengisi kemerdekaan, harapan dan cita-cita ulama adalah keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan bisa dirasakan oleh bangsa Indonesia, apakah rakyat Indonesia sudah merasakannya ?,” kata Acep.

Kegiatan refleksi perjuangan para ulama pada momen peringatan hari kemerdekaan Indonesia, menurut Acep adalah sesuatu yang sangat berharga. Karena, dari refleksi ini, kita bisa menemukan sesuatu yang berharga dari perjuangan para ulama meski kecil nilainya.

“Sebiji sawi intan mutiara, tetap intan yang sangat bernilai, pemikiran, ide, gagasan dan metoda ulama mahal semahal intan, semoga bisa jadi solusi untuk menjawab persoalan bangsa hari ini dengan Ridho Allah SWT, bukan hal yang mustahil,” katanya.

 

Dadi Ahmad Fudoli, budayawan muda mengakui, dari berbagai kajian sejarah dan budaya, kemerdekaan Indonesia memang tidak lepas dari peran ulama dan pondok pesantrennya. Karenanya, layak jika disebut ulama adalah pemegang saham terbesar dari bangsa ini.

“NKRI itu, pemilik saham terbesarnya adalah ulama, lembaganya pondok pesantren, karena perjuangan kemerdekaan di berbagai daerah, selalu saja tidak lepas dari peran ulama,” katanya.

Asep Hermawan, budayawan lainnya melihat, sejak Indonesia belum merdeka atau bahkan nama Indonesia belum muncul, bangsa ini sudah memiliki lembaga pendidikan yang berkembang di masyarakat yaitu pondok pesantren dan tersebar di berbagai daerah, terutama di Pulau Jawa. Makanya, perlawanan terhadap penjajah banyak dilakukan dari pondok pesantren.

“Pondok pesantren ini, tidak lepas dari sejarah perkembagan Islam di Indonesia, sejak Islam masuk Indonesia, sejak itupula pondok pesantren ada, jadi umurnya lebih tua dari Negara ini,” jelas Asep yang biasa dipanggil Asep Maher ini.

Maher melihat, sebagai lembaga pendidikan, pondok pesantren mampu menghasilkan kader-kader pejuang dengan militansi tinggi. Karenanya, pola pendidikan yang dikembangkan di pondok-pondok pesantren saat itu, tidak bisa dipandang sebelah mata.

“Nasionalisme ulama dan santri saat itu tidak boleh diragukan, berarti ada pola-pola pendidikan di pondok pesantren yang ternyata punya nilai lebih dalam mengembangkan rasa nasionalisme,” katanya.

Deden Hasbulloh, Pengurus Pondok Pesantren Al Falah Biru mengungkapkan, tidak ada yang bisa menyangkal peran ulama dan pondok pesantren dalam upaya membebaskan bangsa ini dari penjajahan. Karena, memang pergerakan perlawanan penjajah di berbagai daerah, banyak dimotori ulama dan para santri yang dipimpinnya.
Karenanya, Deden mengingatkan, pada peringatan 77 tahun kemerdekaan bangsa ini, semua elemen bangsa ini harus berterimakasih kepada ulama dan pondok pesantren. Karena, atas jasa mereka bangsa ini saat ini bisa bebas dari belenggu penjajahan.
“Yang harus digaris bawahi, Indonesia merdeka bukan pemberian dari penjajah, tapi hasil perjuangan dari anak-anak bangsa, salahsatunya adalah ulama dan para santri,” tegasnya.

Pada usia 77 tahun, menurut Deden Indonesia sudah melewati berbagai fase kehidupan berbangsa dan bernegara dari mulai fase yang disebut orde lama, orde baru hingga saat ini di masa reformasi. Pemerintah, harus mampu menempatkan ulama dan pondok pesantren agar bisa lebih memberi arah pada pembangunan bangsa ini.

“Jati diri bangsa ini ada pada lembaga pondok pesantren dan ulama, mari kita kembali pada jati diri bangsa yang seutuhnya,” katanya.

Deden Bima, aktivis 98 di Garut mengungkapkan, perjuangan mengisi kemerdekaan, bisa jadi lebih berat dari merebut kemerdekaan, karena yang dilawan adalah bangsa sendiri. Namun, para ulama terdahulu telah memberi teladan bagi generasi saat ini dalam hal totalitas dalam perjuangan.

“Karenanya, ulama juga harus mendapatkan dan merebut ruang besar dalam perjuangan mengisi kemerdekaan,” katanya. (*)

Pos terkait